Manado adalah kota yang memiliki karakter unik dan
kaya potensi wisata. Keramaian di siang hari dan kegemerlapan pada malam
hari menjadikan kota pariwisata ini sebagai salah satu kota tersibuk di
belahan Indonesia bagian utara.
Salah satu aktivitas tersibuk kota yang terletak di
pantai utara pulau Sulawesi dan menghadap ke samudera pasifik ini
terdapat di Pelabuhan Manado. Pelabuhan nasional ini pada pagi dan sore hari
dipenuhi orang-orang sebagaimana kota pelabuhan lainnya.
Sungguh indah dan menyenangkan jika kita
menyaksikan hiruk-pikuk dan kesibukannya. Tampak orang-orang saling bertegur
sapa, lalu-lalang, dan menyaksikan kapal bertolak dari dermaga maupun yang tiba
membuat pun bisa betah berjam-jam di sana.
Sekitar pukul 19.00 atau pukul 7 malam,
merupakan waktu kapal berangkat dari pelabuhan. Perlahan-lahan kapal bertolak
ke tengah laut. Lambaian tangan pengantar, saudara dan kerabat serta lagu
berirama melankolis turut mengiringi keberangkatan kapal.
Suasana yang menarik lainnya terjadi sekitar
pukul 05.00 atau 06.00 pagi hari. Pelabuhan dipenuhi lautan manusia. Penumpang dan
penjemput saling bertemu dan suasana semarak kembali tercipta. Benar-benar pagi
yang indah, ramai dan bising. Rasa haru, gembira dan senang berpadu antara
sahabat, saudara atau famili yang lama tak bertemu.
Lokasi pelabuhan terletak di teluk Manado, di samping
muara sungai Tondano. Kapal yang berlabuh di pelabuhan ini umumnya terbuat dari
kayu dan berukuran kecil. Merupakan salah satu pelabuhan yang paling padat
melayani penumpang tujuan Sangihe, Sitaro, dan Talaud, juga Tobelo dan
Ternate.
Pelabuhan Manado memiliki peranan penting sebagai
kekuatan marchant dan pertumbuhan ekonomi daerah kepulauan di
sekitarnya, juga daerah yang menjadi rute pelayaran seperti Sangihe, Sitaro dan
Talaud.
Di atas pelabuhan ini sejak tahun 2004 telah dibangun
jembatan Soekarno, yang menghubungkan pusat kota dan kawasan utara kota Manado.
Dibangun sebagai solusi untuk mengatasi kemacetan kendaraan sebagai dampak
perkembangan pembangunan dan kemajuan ekonomi kota Manado.
Pelabuhan Manado sudah dikenal sejak dulu. Orang Manado
ada yang menyebutnya Bendar yang artinya bandar atau kawasan di sekitar
pelabuhan. Awal Maret 1797, kapal Her Majesty’s Ship (HMS) Resistance
dan HMS Orpheus di bawah pimpinan Captain Henry Newcomber pernah
berlabuh di pelabuhan Manado.
Ke arah laut, pelabuhan ini berlatar belakang
keindahan alam pulau Bunaken, Manado Tua, Siladen, Mantehage dan pulau Naen. Ke
arah selatan, mata akan tertuju ke kawasan B on B dan Malalayang yang memiliki
pantai indah dan pedagang kreatif lapangan (PKL) yang menempati sabua bulu.
Ke arah utara, mata akan disugukan pemandangan menarik wisata alam gunung
Tumpa, Molas, tanjung Pisok dan Tongkaina. Berpotret dengan keindahan
alam yang mengelilinginya sangat menarik dari pelabuhan yang begitu ramai dan
penuh cerita menarik ini.
Ke arah selatan, sekitar 100 meter dari pelabuhan
pernah dibangun benteng Nieuw Amsterdam. Setelah diperbaiki, namanya
diganti menjadi Fort Amsterdam. Digunakan secara resmi tahun 1705.
Diresmikan oleh gubernur Hindia Belanda, Robertus Padtbrugge. Lalu dihancurkan
oleh tentara sekutu tahun 1944, kemudian bangunannya dibongkar oleh pemerintah
pada tahun 1949-1950. Bekas bangunanya sekitar kantor Polresta Manado di jalan
Pierre Tendean/Boulevard.
Dalam rencana pembangunan kota Manado, pelabuhan yang lokasinya
bersebelahan dengan pasar Bersehati ini akan ditata lebih apik dan akan
dijadikan pelabuhan wisata. Pelabuhan yang ada sekarang akan dipindahkan
ke arah utara, yaitu sekitar daerah Bailang.
Salah satu lokasi menuju taman nasional Bunaken dan empat
pulau wisata sekitarnya adalah melalui pelabuhan ini. Jarak sekitar 8 mil ke
Bunaken ditempuh dalam waktu kurang dari 1 jam dengan sarana transfortasi kapal
kayu bermesin tempel dan atau speed boad.*