Jumat, 27 September 2013

Panorama Pelabuhan Manado



Manado adalah kota yang memiliki karakter unik dan kaya potensi wisata. Keramaian di siang hari dan kegemerlapan pada malam hari  menjadikan kota pariwisata ini sebagai salah satu kota tersibuk di belahan Indonesia bagian utara.
Salah satu aktivitas tersibuk kota yang terletak di pantai utara pulau Sulawesi dan menghadap ke  samudera pasifik ini terdapat di Pelabuhan Manado. Pelabuhan nasional ini pada pagi dan sore hari dipenuhi orang-orang sebagaimana kota pelabuhan lainnya.
Sungguh indah dan menyenangkan jika kita  menyaksikan hiruk-pikuk dan kesibukannya. Tampak orang-orang saling bertegur sapa, lalu-lalang, dan menyaksikan kapal bertolak dari dermaga maupun yang tiba membuat pun bisa betah berjam-jam di sana.
Sekitar pukul 19.00 atau pukul  7 malam, merupakan waktu kapal berangkat dari pelabuhan. Perlahan-lahan kapal bertolak ke tengah laut. Lambaian tangan pengantar, saudara dan kerabat  serta lagu berirama melankolis turut mengiringi keberangkatan kapal.
Suasana yang menarik lainnya terjadi  sekitar pukul 05.00 atau 06.00 pagi hari. Pelabuhan dipenuhi lautan manusia. Penumpang dan penjemput saling bertemu dan suasana semarak kembali tercipta. Benar-benar pagi yang indah, ramai dan bising. Rasa haru, gembira dan senang berpadu antara sahabat, saudara atau famili yang lama tak bertemu.
Lokasi pelabuhan terletak di teluk Manado, di samping muara sungai Tondano. Kapal yang berlabuh di pelabuhan ini umumnya terbuat dari kayu dan berukuran kecil. Merupakan salah satu pelabuhan yang paling padat melayani penumpang tujuan Sangihe, Sitaro, dan Talaud, juga Tobelo dan Ternate.   
Pelabuhan Manado memiliki peranan penting sebagai kekuatan marchant dan pertumbuhan ekonomi daerah kepulauan di sekitarnya, juga daerah yang menjadi rute pelayaran seperti Sangihe, Sitaro dan Talaud.
Di atas pelabuhan ini sejak tahun 2004 telah dibangun jembatan Soekarno, yang menghubungkan pusat kota dan kawasan utara kota Manado. Dibangun sebagai solusi untuk mengatasi kemacetan kendaraan sebagai dampak perkembangan pembangunan dan kemajuan ekonomi kota Manado.
Pelabuhan Manado sudah dikenal sejak dulu. Orang Manado ada yang menyebutnya Bendar yang artinya bandar atau kawasan di sekitar pelabuhan. Awal Maret 1797, kapal Her Majesty’s Ship (HMS) Resistance dan HMS Orpheus di bawah pimpinan Captain Henry Newcomber pernah berlabuh di pelabuhan Manado.
Ke arah laut, pelabuhan ini berlatar belakang keindahan alam pulau Bunaken, Manado Tua, Siladen, Mantehage dan pulau Naen. Ke arah selatan, mata akan tertuju ke kawasan B on B dan Malalayang yang memiliki pantai indah dan pedagang kreatif lapangan (PKL) yang menempati sabua bulu. Ke arah utara, mata akan disugukan pemandangan menarik wisata alam gunung Tumpa, Molas,  tanjung Pisok dan Tongkaina. Berpotret dengan keindahan alam yang mengelilinginya sangat menarik dari pelabuhan yang begitu ramai dan penuh cerita menarik ini.
Ke arah selatan, sekitar 100 meter dari pelabuhan pernah dibangun benteng Nieuw Amsterdam. Setelah diperbaiki, namanya diganti menjadi Fort Amsterdam. Digunakan secara resmi tahun 1705. Diresmikan oleh gubernur Hindia Belanda, Robertus Padtbrugge. Lalu dihancurkan oleh tentara sekutu tahun 1944, kemudian bangunannya dibongkar oleh pemerintah pada tahun 1949-1950. Bekas bangunanya sekitar kantor Polresta Manado di jalan Pierre Tendean/Boulevard.
Dalam rencana pembangunan kota Manado, pelabuhan yang lokasinya bersebelahan dengan pasar Bersehati ini akan ditata lebih apik dan akan  dijadikan pelabuhan wisata. Pelabuhan yang ada sekarang akan dipindahkan ke arah utara, yaitu sekitar daerah Bailang.  
Salah satu lokasi menuju taman nasional Bunaken dan empat pulau wisata sekitarnya adalah melalui pelabuhan ini. Jarak sekitar 8 mil ke Bunaken ditempuh dalam waktu kurang dari 1 jam dengan sarana transfortasi kapal kayu bermesin tempel dan atau speed boad.*